Jumat, 18 Desember 2009

Saya Memilih*



Oleh: Abid Dzuuhimmah**

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak akan pernah lepas dari memilih. Kita akan selalu dihadapkan dengan dua pilihan ataupun lebih dalam pelbagai aspek kehidupan.
Sejak kecil kita sudah senantiasa memilih, apabila terdapat suatu hal yang sesuai dengan pilihan kita maka kesenagan kita tunjukkan dengan ketawa dan lain sebagainya. Nemun apabila terdapat suatu hal yan tidak sesuai dengan pilihan kita, maka kita menekpresikan ketidak senangan kita dengan tangis dan sebagainya.
Banyak orang mengatakan hidup itu pilihan. Tetapi kalau bagi penulis hidup itu untuk memilih. Apa sih bedanya pilihan dan memilih? Toh sama-sama berawal dari kata dasar pilih. Memang kata dasar pilihan dan memilih berasal dari satu kata yang sama tetapi dengan imbuhan yang berbeda, konotasi maknanyapun berbeda juga.
Kata pilihan dengan ahiran an memiliki makna dyang lebih sempit dibandingkan dengan kata memilih. Jika kita mengatakan hidup adalah pilihan maka seolah-olah pilihan kita hanya hidup dan mati saja tanpa ada pilihan lain. Tetapi berbeda halnya jika kita mengatakan hidup adalah memilih maka kita akan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan kita, tidak hanya terbatas antara hidup dan mati.
Allah memberikan akal untuk manusia agar manusia manusia bisa memilih dari sekian banyak pilihan dalam pelbagai sisi kehidupan. Berbeda dengan makhluk Allah lainnya, seperti malaikat dan jin yan tidak diberi akal seperti manusia. Mereka hanya memiliki pilihan tunduk atau maksiat kepada Allah.
Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan segala pilihannya dalam pelbagai aspek kehidupan. Bahkan dalam memilih agama sekalipun Allah tidak memaksa, bahkan Allah memberikan pilihan dengan konsekuensi yang dibawanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 29 :
               •                 
29. dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Sekilas memilih adalah sesuatu yang sederhana. Tetapi kalau kita tinjau lebih jauh lagi memilih adalah suatu hala yang cukup menguras energi dan pikiran. Selain itu ada banyak konsekuensi yang mengikuti dari setiap pilihan kita. Walaupun pada dasarnya memilih itu bebas tetapi perlu diperhatikan juga konsekuensinya.
Penulis tidak jarang dihadapkan dengan bermacam-macam pilihan mulai dari hal yang sederhana sampai pada hal yang lebih kompleks, Termasuk keputusan penulis dalam memilih pindah ke Fakkultas Psikologi dari Fakultas teknik. Penulis mengambil keputusan dan menentukan pilihannya setelah melakukan berbagai tahap pertimbangan. Dengan keputusan itu, penulis harus menrima berbagai resiko dari keputusannya itu, walaupun ada beberapa orang yang mencibir dan menganggap keputusan itu adalah keputusan pengecut, tetapi inilah pilihan penulis, pilihan saya, karena saya memilih. Satu hal lagi yang juga tidak kalah penting bagi penulis adalah memilih soulmate.


*. Sebuah Refleksi
**. Mahasiswa S-1 Psikologi Universitas Muhammadiayah Jember dan Aktivis HMI Cabang Jember


0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Design By:
Faris vio