Jumat, 18 Desember 2009
“Potret Buram Remaja Indonesia Saat lni”
Keadaan Negara Indonesia yang saat ini mengalami kecarut-marutan hampir disemua aspek bidang kehidupan menjadi sebuah pemandangan yang sangat mengharukan mengingat sudah sekian lama bangsa ini meproklamasikan kemerdekaannya. Banyak para pejuang dan pemikir yang dilahirkan dalam melewati dan mengisi waktu di sela – sela pembangunan setelah sekian lama hidup dalam ketertindasan dalam kungkungan pejajahan, namun ironis sampai saat inipun lohjinawi tata tentram karta raharja masih menjadi istilah yang hanya mengisi dan menjadi pelengkap dalam hasil kreatifitas intelektual para pemikir tertentu di Indonesia tanpa menyentuh bentuk konkret dalam ranah praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.
Negara adil makmur dan sentosa (baldatun toyyibatun warabbun ghafur) sebagai cita – cita luhur perjuangan kemerdekaan masih belum mampu diwujudkan mengingat keadilan social dan ekonomi masih belum tampak dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Para penyelenggara negara-pun nampaknya disibukkan dengan kepentingannya masing – masing tanpa berpikir bahwa keberadaan mereka sebagai represetasi masyarakat indonesia secara keseluruhan sangat dibutuhkan perannya untuk memperbaiki keadaan pasca kemerdekaan. Masih terngiang ditelinga dan masih segar dalam ingatan kita tentang kasus busung lapar yang menimpa saudara – saudara kita di beberapa wilayah beberapa tahun terakhir ini semakin menambah koleksi catatan buruk kehidupan masyarakat indonesia. Belum lagi praktik korupsi yang dilakukan oleh aparatur negara semakin melengkapi potret buruk keadaan bangsa dan negara Indonesia pasca kemerdekaan.
Pertanyaan mendasar yang mungkin patut untuk diajukan adalah kepada siapa kita akan menyematkan harapan besar untuk mendapatkan kesejahteraan sebagai bangsa yang berdaulat...??????
Mungkin jawaban yang tepat adalah REMAJA (generasi muda)
Namun, nampaknya harapan tersebut harus di tunda hingga beberapa waktu lamanya mengingat kondisi obyektif remaja (generasi muda) Indonesia saat ini memiliki kecenderungan kuat untuk terus mengikuti arus dan sikap pragmatisme, hedonisme, dan juga sekularisme modernitas barat yang sarat dengan muatan kapitalistik. Kecenderungan itu ditunjukkan dengan berbagai aktifitas dalam bentuk perilaku yang menunjukkan sikap – sikap a-sosial dan bahkan a-susila. Bahkan tidak jarang mereka melakukan tindakan anarkis untuk sekedar menunjukkan eksistensinya.
Kondisi tersebut terjadi akibat dari dorongan / arahan agar aktif dalam media yang dapat merangsang daya kreatifitas serta mengasah dan membentuk jiwa kepemimpinan para remaja sebagai generasi penerus bangsa dalam lingkungan pendidikan sangat jarang sekali dilakukan, bahkan terkesan dibiarkan begitu saja. Sehingga kecenderungan para remaja untuk mencari kegiatan untuk mengisi kekosongan waktunya diluar waktu sekolah/kuliah terarahkan kepada hal – hal yang bersifat rekreatif dan hedonistic (senang – senang) dalam banyak varian. Jika hal ini dibiarkan begitu saja lama kelamaan hal tersebut tanpa disadari akan menjadi kebiasaan dan membentuk pola pergaulan (style) remaja tersebut.
Kehidupan remaja yang masih dalam tahap pencarian dan pembentukan jati diri akan semakin tidak menemukan bentuk idealnya jika lingkungan pendidikan dan interaksi sosialnya tidak mendukung bagi pengembangan potensi dan kreatifitas berpikirnya. Pola berpikir yang terkonstruk akibat dari kebiasaan – kebiasaan yang merupakan hasil dari pengadopsian produk - produk barat hanya akan melahirkan karakter berpikir westernis yang sarat kental dengan muatan – muatan kapitalis yang semakin mengikis semangat nasionalime sebagai kerangka dalam membangun negara yang berdaulat.
Kemudahan dalam mengakses informasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan mengkontrol diri dalam memilih materi informasi saat ini cenderung akan membuat remaja menjatuhkan pilihan – pilihan kepada sesuatu hal yang menurut pikirannya sesuai dengan statusnya sebagai remaja seperti meniru – niru perilaku dan gaya hidup seperti artis. Sehinga akhirnya adalah menjadikan artis sebagai tolak ukur (panutan) dalam melakukan gerak aktifitas kehidupan tanpa melihat sejauh mana kemampuan dan juga dampak dari apa yang dilakukan itu. selain itu juga akses internet yang begitu mudah juga menjadi salah satu hal yang dapat membentuk moral para remaja. Jika dalam penggunaan teknologi informasi diarahkan kepada sesuatu hal yang positif maka sudah barang tentu hasil yang diperoleh akan positif, akan tetapi realitas objektif saat ini mengatakan bahwa sebagian besar pengguna teknologi ini lebih diarahkan kepada hal yang negative dan berbau pornografi.
Kecenderungan terhadap hal – hal negative ini tentunya akan menjadikan mentalitas para pemuda Indonesia akan semakin terjerembab kedalam jurang kehancuran. Padahal, problematika yang tengah dihadapi bangsa saat ini membutuhkan peranan semua pihak termasuk peran pemuda dimasa depan untuk lebih pro aktif dalam mengisi dan memperbaiki keadaan dari sekarang dan masa yang datang dalam kerangka pembangunan menuju kesejahteraan bagi bangsa. Amin…!!!
By : @Fitroh_Arbin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar