Jumat, 18 Desember 2009

Hijrah Dengan Niat


Abdullah Baidlai*

Peristiwa Hijrah Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya 1431 tahun silam menjadi pijakan kalender islam. Penentuan peristiwa hijrah sebagai awal kalender islam ditetapkan oleh khalifah Umar Bin Khattab ra. saat menjadi khalifah. Sebelum Umar bin khattab menetapkan kalender islam, terdapat bermacam-macam usulan dari sahabat-sahabat nabi mengenai awal kalender islam yang dengan berpijak pada peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. dalam memperjuangkan agama islam. Namun setelah terjadi diskusi panjang di antara sahabat, ahirnya diputuskan penetapan kalender islam dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dari Mekkah ke Madinah.
Kata hijrah berasal dari bahasa arab yang artinya pindah. Hijrahnya nabi Muhammad Saw dengan para sahabatnya dari Mekkah ke Madinah memiliki makna yang sangat besar bagi umat islam dan perkembangan islam selanjutnya. Hijrahnya beliau ke madinah bukan hanya sekedar mencari aman saja, akan tetapi juga untuk memperkuat kedudukan islam dan pengaruhnya. Terbukti hanya dengan kurun waktu yang relatif singkat, islam bisa menyebar dan menguasai seluruh jazirah arab, termasuk juga kota makkah.
Selain menjadi titik terang penyebaran islam, peristiwa hijrah bisa kita maknai perpindahan dari hal yang buruk menuju hal yang baik, dari kegelapan menuju cahaya, dari kedholiman menuju keadaban, dari ketertindasan menuju keadilan. Secara psikologis, Hijrah telah memberikan kepercayaan diri yang tinggi terhadap para sahabat dalam memperjuangkan islam, walaupun harus meninggalkan tanah air dan harta benda.
Akan tetapi hijrah tidak akan ada artinya tanpa niat yang benar. Hal itu diwanti-wantikan oleh Rasulullah Saw. Terhadap para sahabat dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Umar Ibnu Khattab ra. “ sesungguhnya amal perbuatan seseorang itu disertai niat dan setiap orang mendapatkan balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang diharapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.
Mari di awal tahun ini, kita awali dengan niat dan ikhtiar yang baik demi memperbaiki kondisi bangsa Indonesia. Seperti apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw. di atas, segala sesuatu itu sangat ditentukan oleh niat kita. Meminjam istilah saykoji, perlu ada revolusi hati (baca; niat) untuk memperbaiki bangsa yang curat marut.
Hijrah yang harus kita lakukan saat ini untuk memperbaiki kondisi bangsa adalah hijrah dengan niat. Seperti apapun system yang digunakan oleh bangsa ini kalau pemimpin dan rakyatnya tidak memiliki niatan yang baik, jangan harap kondisi bangsa kita akan baik. Kalau boleh meminjam bahasanya ainun najib, niat seperti air zamzam di negeri comberan.
*. Mahasiswa S-1 Psikologi Unmuh Jember & Kader HMI Cabang Jember

HARAPAN-HARAPAN PILBUB 2010


Abdullah Baidla’I*

Hiruk pikuk Pemilihan Bubati (PILBUB) kabupaten Jember akan segera dimulai bersamaan dengan 17 Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) di kabupaten dan kota lain pada tahun 2010 mendatang. Pada tahun 2009 ini, masyarakat jember telah terlibat dua kali dalam PEMILU, pada Pemilihan Presiden (PILPRES) dan Pemilihan Anggota Legislatif (PILEG).
Partai-partai politik saat ini sudah mulai mempersiapkan diri untuk ikut berkompetisi pada PILBUB Jember. Radar Jember edisi Jum’at 2 oktober 2009 kemarin, memberitakan bahwa salah satu partai politik yang memiliki basis masa Nahdaltul Ulama’ (NU) sudah mengantongi calon bupati yang siap untuk diikutkan dalam bursa PILBUB.
Disamping itu, beberapa calon yang akan berangkat lewat jalur independen telah mulai memasang baliho dan poster di sekitar kota jember. Seperti disampaikan oleh ketua KPU Jember saat sesi wawancara di RRI Jember kamis 1 oktober kemarin, bahwa pada PILBUB Jember 2010 mendatang disiapkan jalur independen bagi yang ingin menjadi calon bubapati yang tidak ingin melewati jalur partai.
Masyarakat jember tentunya berharap calon Bupati Jember, baik yang lewat jalur partai atau jalur independen, bisa bermain sehat tanpa menggunakan poltik uang, atau politik kambing hitam. Sehingga PILBUB 2010 mendatang ini dapat melahirkan sosok Bupati yang mampu memimpin dan menjadi tauladan yang baik bagi masyarkat jember dan bisa mewujudkan Jember TERBINA (Tertib, Bersih, Indah dan Aman).
KPU Jembar yang menjadi pelaksana teknis pada PILBUB Jember mendatang dituntut untuk benar-benar netral. Jangan sampai KPU berpihak dan bertendensi terhadap salah satu pasangan calon saja sehingga tidak terjadi pengelembungan suara. Persoalan-persoalan teknis yang dapat merugikan salah satu calon seperti Daftar Pemilih Tetap (DPT) jangan sampai diabaikan. Selain itu KPU juga dituntut untuk tidak mempolitisi hasil PILBUB.
Partai politik yang akan mengikut sertakan kadernya atau mendukung salah satu pasangan calon pada PILBUB mendatang, diharapkan benar-benar selektif dalam menentukan calon. Partai politik jangan hanya melihat potensi calon dalam membesarkan partai saja tanpa melihat potensinya dalam memimpin kabupaten Jember ke depan. Apabila kader atau calon yang didukung oleh partai politik mampu mengemban amanah sebagai Bupati dengan baik, maka secara otamatis partai politiknyapun akan berpotensi untuk besar
Partai-partai politik pada saat ini, harus aktif turun ke masyarakat dan berembuk dengan mereka tentang sosok ideal Bupati Kabupaten Jember. Sehingga peranan masyarakat dalam membangun Kabupaten Jember pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, bukan hanya pada saat PEMILU atau PILKADA saja. Tetapi mereka juga ikut berkontribusi dalam menentukan calon Bupati. Karena yang merasakan baik atau tidaknya seorang bupati adalah masyarakat secara keseluruhan.
Dengan aktifnya partai politik menghimpun aspirasi masyarakat dalam penentuan calon akan melahirkan calon yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Berbeda halnya apabila partai politk hanya mendengarkan ucapan-ucapan pengamat yang memiliki kepentingan tertentu, maka calon tersebut hanya akan menguntungkan pada beberapa pihak saja dan masyarakat jember akan terabaikan.
Tentunya harapan-harapan diatas akan tercapai apabila seluruh elemen masyarakat kabupaten Jember ikut terlibat dan mengawal secara aktif atas pelaksanaan PILBUB Jember 2010. Mari kita serukan bersama untuk mensukseskan PILBUB Jember, dengan harapan lahirnya Bupati Jember yang jujur, Adil dan amanah yang tidak akan makan uang rakyat semata.

*. Mahasiswa S-1 Universitas
Muhammadiyah Jember
Dan kader HMI Cabang
Jember



Saya Memilih*



Oleh: Abid Dzuuhimmah**

Dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak akan pernah lepas dari memilih. Kita akan selalu dihadapkan dengan dua pilihan ataupun lebih dalam pelbagai aspek kehidupan.
Sejak kecil kita sudah senantiasa memilih, apabila terdapat suatu hal yang sesuai dengan pilihan kita maka kesenagan kita tunjukkan dengan ketawa dan lain sebagainya. Nemun apabila terdapat suatu hal yan tidak sesuai dengan pilihan kita, maka kita menekpresikan ketidak senangan kita dengan tangis dan sebagainya.
Banyak orang mengatakan hidup itu pilihan. Tetapi kalau bagi penulis hidup itu untuk memilih. Apa sih bedanya pilihan dan memilih? Toh sama-sama berawal dari kata dasar pilih. Memang kata dasar pilihan dan memilih berasal dari satu kata yang sama tetapi dengan imbuhan yang berbeda, konotasi maknanyapun berbeda juga.
Kata pilihan dengan ahiran an memiliki makna dyang lebih sempit dibandingkan dengan kata memilih. Jika kita mengatakan hidup adalah pilihan maka seolah-olah pilihan kita hanya hidup dan mati saja tanpa ada pilihan lain. Tetapi berbeda halnya jika kita mengatakan hidup adalah memilih maka kita akan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan kita, tidak hanya terbatas antara hidup dan mati.
Allah memberikan akal untuk manusia agar manusia manusia bisa memilih dari sekian banyak pilihan dalam pelbagai sisi kehidupan. Berbeda dengan makhluk Allah lainnya, seperti malaikat dan jin yan tidak diberi akal seperti manusia. Mereka hanya memiliki pilihan tunduk atau maksiat kepada Allah.
Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan segala pilihannya dalam pelbagai aspek kehidupan. Bahkan dalam memilih agama sekalipun Allah tidak memaksa, bahkan Allah memberikan pilihan dengan konsekuensi yang dibawanya. Seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 29 :
               •                 
29. dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Sekilas memilih adalah sesuatu yang sederhana. Tetapi kalau kita tinjau lebih jauh lagi memilih adalah suatu hala yang cukup menguras energi dan pikiran. Selain itu ada banyak konsekuensi yang mengikuti dari setiap pilihan kita. Walaupun pada dasarnya memilih itu bebas tetapi perlu diperhatikan juga konsekuensinya.
Penulis tidak jarang dihadapkan dengan bermacam-macam pilihan mulai dari hal yang sederhana sampai pada hal yang lebih kompleks, Termasuk keputusan penulis dalam memilih pindah ke Fakkultas Psikologi dari Fakultas teknik. Penulis mengambil keputusan dan menentukan pilihannya setelah melakukan berbagai tahap pertimbangan. Dengan keputusan itu, penulis harus menrima berbagai resiko dari keputusannya itu, walaupun ada beberapa orang yang mencibir dan menganggap keputusan itu adalah keputusan pengecut, tetapi inilah pilihan penulis, pilihan saya, karena saya memilih. Satu hal lagi yang juga tidak kalah penting bagi penulis adalah memilih soulmate.


*. Sebuah Refleksi
**. Mahasiswa S-1 Psikologi Universitas Muhammadiayah Jember dan Aktivis HMI Cabang Jember


Uang Coin Sebagai Raja Penegak Keadilan Bagi Wong Cilik



Fenomena uang coin (uang recehan) merupakan salah satu pernak-pernik peristiwa yang tak kalah hebatnya dengan kasus Bank Century, dimana pada saat ini sering menjadi bahan perbincangan dan diskusi dikalangan masyarakat, politisi, bahkan sudah menjadi perhatian dikalangan elit Birokrasi pemerintahan. Padahal ketika kita lihat sejenak pada taraf ukuran nilai,, uang recehan memiliki jumlah nominal yang sangat kecil dibandingkan dengan uang kertas yang memiliki jumlah nominal yang besar dan memiliki porsi yang besar yang sering di konsumsi masyarakat dalam pemenuhan hidup sehari-hari. Akan tetapi paling tidak, sebagai warga yang masih peduli terhadap keeksistensian (keberadaan) uang coin janganlah selalu mengacu pada ukuran nilai akan tetapi lihatlah pada segi fungsi dan manfaat penggunaannya yang bersifat positif, salah satu contoh kasus ketidakadilan dimata payung hukum yang sering di ekpose di media entertainment adalah kasus Prita dengan pihak rumah sakit Omni yang meminta ganti rugi sebesar 209 juta terhadap tindakan pencemaran nama baik institusi. Hal tersebut menjadi perhatian fenomenal dikalangan masyarakat akan cacatnya keadilan dan perlakuan hukum terhadap wong cilik yang terjadi pada Bangsa kita. Alhasil fenomena tersebut memicu kebangkitan rakyat kecil untuk melakukan perlawanan terhadap para penegak hukum dengan cara menghidupkan kembali budaya yang telah mati yaitu dengan cara mengumpulkan Uang coin (uang recehan) dari masyarakat yang masih peduli terhadap kebersihan akan hukum di negeri ini, yang pada akhirnya terkumpul melebihi apa yang menjadi tuntutan dari pihak Omni itu sendiri.
Berdasarkan dari gambaran kasus diatas, masih banyak dari kalangan kita yang tidak menduga bahkan melupakan atas manfaat uang coin (uang recehan) terhadap keberadaan atas keadilan dan kesejateraan rakyat kecil di mata Negara. Padahal kalau kita explore sedemikian rupa tentunya uang recehan tersebut memiliki multi fungsi, selain sebagai senjata atas ketidakadilan yang telah mengurita pada tubuh Bangsa ini, hal tersebut juga bisa digunakan sebagai senjata untuk memerangi kemiskinan dan kebodohan yang semakin menjamur pada organ Bangsa ini. Sehingga sekecil apapun nominal uang coin (recehan) tersebut sangat berarti besar bagi rakyat kecil dan kemajuan Bangsa ini ketimbang uang kertas yang banyak menimbulkan polemik pada Bangsa ini. Hal tersebut tentunya sesuai dengan sebuah cerita keluarga Bangsawan yang memiliki segala-galanya mulai dari harta kekayaan yang bertumpuk sampai pada kekuasaan. Pada suatu hari keluarga bangsawan tersebut melakukan sebuah perjalanan dengan sebuah kapal pesiar yang mewah lengkap dengan awa-awaknya, tiba-tiba di tengah perjalanan kapal pesiar tersebut bocor di tengah laut, dan ketika itu ada kepala keluarga bangsawan tersebut yang tidak mendapatkan pelampung, dan dia mencoba meminta kepada awak kapal pesiar tersebut untuk menukarkan pelampungnya dengan uang sebesar 5 milyar, namun yang dikatakan awak tersebut malah dia lebih memilih pelampung ketimbang uang yang nantinya tidak bisa di nikmati.
Dari sebuah cerita barusan tentunya kita bisa mengambil hikmah, agar kita sebagai generasi pemuda Bangsa harus benar-benar bisa menanamkan rasa kecintaan terhadap uang Coin (uang recehan) agar kita gunakan kepentingan untuk kepentingan rakyat kecil, sehingga dalam artian jargon pemuda yang sering munculkan sebagai Agent of Change, Agent of Control, ataupun of society benar terjalankan sesuai dengan cita-cita Bangsa ini kedepan menjadi lebih baik.

Ditulis oleh: Mbah Batik
YAKUSA………..!!!!!!!


“Potret Buram Remaja Indonesia Saat lni”



Keadaan Negara Indonesia yang saat ini mengalami kecarut-marutan hampir disemua aspek bidang kehidupan menjadi sebuah pemandangan yang sangat mengharukan mengingat sudah sekian lama bangsa ini meproklamasikan kemerdekaannya. Banyak para pejuang dan pemikir yang dilahirkan dalam melewati dan mengisi waktu di sela – sela pembangunan setelah sekian lama hidup dalam ketertindasan dalam kungkungan pejajahan, namun ironis sampai saat inipun lohjinawi tata tentram karta raharja masih menjadi istilah yang hanya mengisi dan menjadi pelengkap dalam hasil kreatifitas intelektual para pemikir tertentu di Indonesia tanpa menyentuh bentuk konkret dalam ranah praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.
Negara adil makmur dan sentosa (baldatun toyyibatun warabbun ghafur) sebagai cita – cita luhur perjuangan kemerdekaan masih belum mampu diwujudkan mengingat keadilan social dan ekonomi masih belum tampak dalam kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Para penyelenggara negara-pun nampaknya disibukkan dengan kepentingannya masing – masing tanpa berpikir bahwa keberadaan mereka sebagai represetasi masyarakat indonesia secara keseluruhan sangat dibutuhkan perannya untuk memperbaiki keadaan pasca kemerdekaan. Masih terngiang ditelinga dan masih segar dalam ingatan kita tentang kasus busung lapar yang menimpa saudara – saudara kita di beberapa wilayah beberapa tahun terakhir ini semakin menambah koleksi catatan buruk kehidupan masyarakat indonesia. Belum lagi praktik korupsi yang dilakukan oleh aparatur negara semakin melengkapi potret buruk keadaan bangsa dan negara Indonesia pasca kemerdekaan.
Pertanyaan mendasar yang mungkin patut untuk diajukan adalah kepada siapa kita akan menyematkan harapan besar untuk mendapatkan kesejahteraan sebagai bangsa yang berdaulat...??????
Mungkin jawaban yang tepat adalah REMAJA (generasi muda)
Namun, nampaknya harapan tersebut harus di tunda hingga beberapa waktu lamanya mengingat kondisi obyektif remaja (generasi muda) Indonesia saat ini memiliki kecenderungan kuat untuk terus mengikuti arus dan sikap pragmatisme, hedonisme, dan juga sekularisme modernitas barat yang sarat dengan muatan kapitalistik. Kecenderungan itu ditunjukkan dengan berbagai aktifitas dalam bentuk perilaku yang menunjukkan sikap – sikap a-sosial dan bahkan a-susila. Bahkan tidak jarang mereka melakukan tindakan anarkis untuk sekedar menunjukkan eksistensinya.
Kondisi tersebut terjadi akibat dari dorongan / arahan agar aktif dalam media yang dapat merangsang daya kreatifitas serta mengasah dan membentuk jiwa kepemimpinan para remaja sebagai generasi penerus bangsa dalam lingkungan pendidikan sangat jarang sekali dilakukan, bahkan terkesan dibiarkan begitu saja. Sehingga kecenderungan para remaja untuk mencari kegiatan untuk mengisi kekosongan waktunya diluar waktu sekolah/kuliah terarahkan kepada hal – hal yang bersifat rekreatif dan hedonistic (senang – senang) dalam banyak varian. Jika hal ini dibiarkan begitu saja lama kelamaan hal tersebut tanpa disadari akan menjadi kebiasaan dan membentuk pola pergaulan (style) remaja tersebut.
Kehidupan remaja yang masih dalam tahap pencarian dan pembentukan jati diri akan semakin tidak menemukan bentuk idealnya jika lingkungan pendidikan dan interaksi sosialnya tidak mendukung bagi pengembangan potensi dan kreatifitas berpikirnya. Pola berpikir yang terkonstruk akibat dari kebiasaan – kebiasaan yang merupakan hasil dari pengadopsian produk - produk barat hanya akan melahirkan karakter berpikir westernis yang sarat kental dengan muatan – muatan kapitalis yang semakin mengikis semangat nasionalime sebagai kerangka dalam membangun negara yang berdaulat.
Kemudahan dalam mengakses informasi yang tidak diimbangi dengan kemampuan mengkontrol diri dalam memilih materi informasi saat ini cenderung akan membuat remaja menjatuhkan pilihan – pilihan kepada sesuatu hal yang menurut pikirannya sesuai dengan statusnya sebagai remaja seperti meniru – niru perilaku dan gaya hidup seperti artis. Sehinga akhirnya adalah menjadikan artis sebagai tolak ukur (panutan) dalam melakukan gerak aktifitas kehidupan tanpa melihat sejauh mana kemampuan dan juga dampak dari apa yang dilakukan itu. selain itu juga akses internet yang begitu mudah juga menjadi salah satu hal yang dapat membentuk moral para remaja. Jika dalam penggunaan teknologi informasi diarahkan kepada sesuatu hal yang positif maka sudah barang tentu hasil yang diperoleh akan positif, akan tetapi realitas objektif saat ini mengatakan bahwa sebagian besar pengguna teknologi ini lebih diarahkan kepada hal yang negative dan berbau pornografi.
Kecenderungan terhadap hal – hal negative ini tentunya akan menjadikan mentalitas para pemuda Indonesia akan semakin terjerembab kedalam jurang kehancuran. Padahal, problematika yang tengah dihadapi bangsa saat ini membutuhkan peranan semua pihak termasuk peran pemuda dimasa depan untuk lebih pro aktif dalam mengisi dan memperbaiki keadaan dari sekarang dan masa yang datang dalam kerangka pembangunan menuju kesejahteraan bagi bangsa. Amin…!!!
By : @Fitroh_Arbin

Selasa, 15 Desember 2009

Romantisme Aktivis (Bag. 2)


Andita Hermawan, cewek berambut panjang yang cantik nan menawan sedang asyik bercengkrama dengan teman sebayanya di kantin kampus, sambil mengisi waktu luang menunggu waktu memanggilnya kembali ke dalam kelas.
Sore yang indah dengan langit biru dihiasi awan putih bagaikan kapas di angkasa. Dita yang selalu sportif dan terlihat ceria berjalan menuju lapangan di tengah kampus. Dari menit kemenit, Dita tanpa ragu memasukkan bola ke dalam ring. Saat energinya terkuras habis, konsentrasinya terganggu dengan celoteh kaum hawa yang ramai membicarakan Indra, aktifis kampus yang selalu menjadi topik utama dalam pembahasan sehari-hari. Tapi, lain halnya dengan Dita, cewek asal Jakarta ini tidak sekalipun tertarik dengan topik-topik semacam itu. Bagi dirinya, basket adalah hal yang paling penting dan dapat menjadi pemain professional. Kecintaannya terhadap basket membuatnya selalu semangat mengumpulkan tropi dari berbagai pertandingan.
Awal November, ujian akhir semester dimulai. Indra yang selalu bersaing dengan Rania, harus benar-benar konsentrasi dengan ujiannya. Dia tidak ingin nilai IPK nya berada di bawah Rania yang menjadi rival setianya.
Beberapa minggu berlalu, ujianpun selesai dan nilai IPK Rania tidak jauh beda dengan nilai IPK  Indra. Rupanya, Indra memiliki rival setia yang mebuatnya harus tetap bersemangat dibidang akademik dan organisasinya.
Indra mmangayuh sepeda sederhannanya, tiba-tiba sebuah mobil silver berhenti tepat didepannya. Indra terheran melihat gadis cantik berambut panjang dengan senyuman menawan keluar dari dalam mobil dan menyapanya. Bukan karena sengaja atau kebetulan Dita menyapanya, tapi Dita ingin tahu sosok seorang Indra yang selalu menjadi topik utama para cewek di kampusnya. Indra yang tidak pernah memberikan respon atas sikap kaum hawa, saat itu dia mengakui kacantikan Dita.
Pagi yang begitu dingin, mentaripun enggan memberikan senyuman hangatnya. Tanpa terasa waktu berlalu seiring jarum jam yang berdetak. Dita pun sering menemui Indra disela-sela kesibukannya. Merekapun sering menghabiskan waktu berdua, bercerita, dan saling tukar pengalaman satu sama lain. Kedekatan mereka membuat kaum hawa pada gigit jari, karena setiap jam hampir mereka habiskan untuk bersama.
Suara adzan maghrib membuyarkan lamunan Indra. Bayangannya selalu diisi oleh wajah manis Rania, gadis berjilbab yang selalu menjadi rivalnya, tetapi dia juga tidak bisa lari dari kenyataan kalau Indra lebih dekat dengan Dita, cewek yang selalu bisa mencairkan suasana dan kembali membuat indra tersenyum kala ia merasa lelah dengan setumpuk tugasnya.
Kini Indra tidak bisa menebak apa yang dia rasakan dan apa yang harus dia lakukan. Dia merasa virus merah jambu semakin dekat menghampirinya. Indra hanya bisa berdo’a dan berharap semua akan menemukan jalan terbaik, karena Indra tahu, “Allah tidak akan memberikan apa yang kita minta, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuh”…. . Bersambung…..

Kamis, 10 Desember 2009

Romantisme Aktivis



Pagi yang cerah, secerah senyuman Indra yang selalu semangat mengayuh sepeda sederhananya menuju kampus tercinta. Mentaripun tersenyum bahagia mendampingi Indra kembali beraktivitas. Suasana kampus yang kian ramai, tidak sekalipun membuat kaum hawa membiarkan pandangannya berlalu begitu saja, ketika Indra melangkah didepannya. Keaktifan Indra terdengar sampai keseluruh pelosok kampus, tidak heran apabila wajah rupawan dan senyuman ramahnya selalu dirindukan oleh penggemar setianya. Kedatangan Indra bagai hujan dimusim kemarau yangt selalu ditunggu.
Laki-laki kelahiran Yogyakarta ini tidak hanya sibuk dengan aktifitasnya sebagai seorang mahasiswa, tetapi dia juga menghabiskan waktunya disebuah organisasi kepemudaan di kampusnya. Dia tidak bisa tinggal diam membiarkan diri dan hari-harinya berlalu begitu saja, tanpa melakukan aktivitas apapun. Dia selalu berusaha membuat hal baru sehingga hari-harinya penuh warna.
Siang itu mentari sangat tidak bersahabat dengan Indra. Dia menunjukkan lidah panasnya yang seakan membakar bumi dan sebagai penguasa tunggal. Indra merasa semangatya juga ikut terserap oleh sang mentari. Jam yang melingkar dilengannya menunjukkan 13.00 WIB. Indra bergegas menuju masjid untuk shalat dhuhur. Sesaat Indra diingatkan kalau para cacing sudah bernyanyi sejak Tiga jam yang lalu. Indra tersenyum dan segera bergegas menuju kantin untuk mengembalikan semua energi yang mulai habis setelah seharian beraktifitas.
Indra mahasiswa yang selalu aktif dalam kegiatan kampus sehingga menjadikan dia dikenal khalayak kampus. Mahasiswa yang selalu muncul dengan IPK diatas 3,5 ini, selalu membuat khalayak kampus antri untuk menjadi temannya, tidak ketinggalan dengan kaum hawa yang tak habis-habis memujanya.
Awal minggu Indra melakukan tugasnya sebagai ketua organisasi kepemudaan di kampusnya. Wajah ramah dan sikap tegas Indra memikat hati kaum hawa, tak terkecuali Rania gadis berjilbab dengan senyuman manis berhias lesung di pipinya yang menjadikan dia semakin mempesona. Ada sedikit kekaguman di hati Rania, tetapi Rania enggan terlibat dengan virus merah jambu yang bisa membuat semuanya jadi rumit, bahkan berantakan kalau saja Rania tidak bisa mengatasinya. Secepat mungkin Rania mengembalikan pikirannya pada tema yang dibahas tuntas oleh Indra.
Indra yang mudah bergaul dan mempunyai banyak teman, dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh saat dia kenal dengan Rania Zulkarnaen, cewek berdarah Jawa-Makasar yang baru beberapa bulan ini menjadi teman sekelasnya. Gadis yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kuliah, sehingga dia jarang terlihat dikegiatan kampus yang lebih banyak menyita waktu. Dia lebih tertarik dengan organisasi kepemudaan yang selalu mengangkat hal-hal baru dan aktual.
Rania bukan hanya menjadi teman sekelas atau rekan organisasi bagi Indra. Akan tetapi, dia juga menjadi rival baginya. Prestasi yang diraih Rania tidak jauh beda dengan Indra. Tiap semester prestasi mereka selau berkejaran seperti gelombang laut.
Wajah manis Rania selalu menggelayuti pikiran Indra, entah karena dia menjadi rival terberatnya atau karena faktor lain. Indra berusaha membuka pikirannya dan menepis jauh-jauh bayangan Rania. Dia kembali melanjutkan kegiatannya dan menghabiskan waktu selama berjam-jam di depan laptop kesayangannya. “tidak dapat dipungkiri kalau seorang aktifis juga manusia”, hatinya berusaha membenarkan perasaannya. Seiring berjalannya waktu, mereka sering dipertemukan baik dalam kelas ataupun di organisasi yang dikenal langsung oleh Indra. Dia tidak ingln hubungan kerjasamanya dengan Rania berantakan hanya karena emosi sesaat. Indra tahu dan yakin kalau semua akan indah pada waktunya. Bersambung…

Minggu, 10 Mei 2009

Pandangan Umum Pengurus Komisariat Ibnu Khaldun Atas Kinerja Cabang selama Semester II

Berbagai macam persoalan yang timbul dalam perjalanan roda organisasi menjadi sebuah upaya dinamisasi organisasi dalam mengawal seluruh gerak aktifitas organisasi tersebut. Dinamika inilah yang akan menjadi ujian bagi organisasi tersebut dalam menjaga eksistensi dimana ia menspesialisasikan dirinya, sukses atau tidak adalah penilaian dari seluruh aktifitas ke-organisasian yang diselenggarakan, begitupun bagi HMI khususnya HMI Cabang Jember saat ini.


Baik atau buruk wajah yang ditampakkan bergantung kepada kualitas sumber daya manusia yang menjadi perangkat didalamnya dan kualitas kerja yang diwujudkan dalam perealisasian seluruh program kerja yang telah direncanakan sebelumnya. Begitupun bagi seluruh pengurus HMI Cabang Jember, dalam mengemban amanah organisasi merupakan tugas yang sangatlah berat dan sulit, tetapi hal itu tidak akan menjadi berat jika dilakukan dengan penuh rasa memiliki yang cukup tinggi terhadap organisasi ini.


Milikilah kehormatan, karena tanpa kehormatan HMI bukanlah apa - apa dan para kadernya bukanlah siapa - siapa. Memiliki dan sekaligus memperjuangkan organisasi ini memang berat kalau itu dianggap berat dan akan menjadi ringan jika dianggap ringan tetapi masalahnya adalah maukah dan ihlaskah kita sebagai kader memperjuangkan Organisasi ini tanpa adanya tendensi apapun. Mengawal organisasi ini hingga sampa kepada tujuan yang diinginkan membutuhkan perjuangan dan semangat yang tinggi dalam menjalankannya. Realisasi itu butuh pemikiran,tenaga dan keihlasan, dan perlu adanya penempatan wilayah tersendiri agar apa yang dijalankan tidaklah tumpang tindih antara kepentingan kelompok dan organisasi berjalan secara alamiah dan tertata yang akan berkesan pada citra organisasi dengan kesan yang cukup mapan dan cukup diperhitungkan di dunia kemahasiswaan.


Saat ini, citra baik yang pernah ditunjukkan HMI terdahulu dengan berbagai macam prestasi nampaknya sudah mulai luntur tergerus oleh keadaan. HMI tidak lagi mampu berdiri di garda terdepan dalam melakukan perubahan di negeri ini, HMI saat ini seringkali kehilangan momentum dan kurang peka terhadap isu – isu yang lagi aktual sehingga menjadi wajar apabila HMI seringkali ketinggalan dalam menyusun melakukan gerakan baik dalam ruang lingkup lokal maupun nasional.


Di tingkatan lokal HMI Cabang Jember saat ini bisa dikatakan masih kurang maksimal dalam melaksanakan tugasnya, ini ditunjukkan dengan adanya beberapa persoalan serius yang muncul sebagai berikut:

- Adanya komisariat yang sudah mulai ‘terlelap dalam tidur’.

- Ketidakseriusan dalam menyikapi status komisariat situbondo

- Ketidak jelasan mengenai upaya pengadaan KTA

- Perumusan dan pengembangan pola pembinaan anggota yang tidak komprehensif.

- Kurangnya upaya peningkatan kualitas aparatur organisasi

- Kurangnya intensitas komunikasi yang dilakukan oleh Pengurus HMI Cabang dengan pengurus Komisariat


Keadaan yang sudah sedemikian rupa buruknya tentunya menjadi pelajaran bagi kita semua untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Suasana perkaderan yang kondusif dan menjanjikan harus benar – benar di upayakan agar kualitas kader yang dihasilkan adalah adalah kader – kader yang mapan dan mampu menjawab segala tuntutan dan tantangan zaman. Yakusa.....!!!

 
Template Design By:
Faris vio